Ekspedisi Anggrek

July 20, 2011


Berawal dari pikiranku yang semakin penat dan membuatku teringat – ingat anggrek setiap hari. Akhirnya aku putuskan untuk ‘walk out’.  Dan setelah browsing-browsing untuk cari informasi dan referensi, akhirnya putuskan tujuannya adalah tempat yang punya banyak koleksi kembang anggrek yaitu Kebun Raya Cibodas. Aku langsung cari informasi selengkap-lengkapnya dan mempelajari rutenya. Dan kerennya ternyata aku bisa mampir dibeberapa tempat sebelum sampai di KBC.

Tepat hari minggu, pagi-pagi banged aku udah berangkat. Karena memperhitungkan waktu dan takut pulangya kemalaman. Bawaan yang aku bawa lumayan banyak, termasuk didalamnya bekal makanan, minuman , snack, dan rincian perjalanan yang sudah siapin dari dua hari sebelumnya. Maklum-lah pergi sendiri ke tempat yang asing pula, jadi harus mempersiapkan semuanya sematang mungkin. Akhirnya sekitar jam 6 pagi lewat sedikit, aku berangkat menuju Stasiun Bojonggede dan langsung naik kereta ekonomi menuju Stasiun Bogor. And here is my journey \^^/ \^^/

1.      Kebun Raya Bogor “Orchid House”
Kebun Raya Bogor inilah yang jadi tujuanku yang. Karena waktu itu sampe di Bogor masih kepagian, sekitar jam 7 lewat sedikit. Akhirnya  aku putuskan untuk jalan kaki ke tempat tujuan. Lagipula letaknya gak terlalu jauh dari stasiun.

Sesampainya di sana, Kebun Raya Bogor masih sepi kayak hutan. Aku rasa, aku adalah pengunjung pertama yang datang kesana bukan dengan tujuan olahraga. Karena selebihnya disana cuma ada beberapa orang tua yang lagi lari pagi. Setelah beli tiket yang sekarang harganya Rp 10.000, w langsung melesat kedalam dan nyari papan informasi. Karena w denger Kebun Raya Bogor ini juga punya tempat koleksi anggrek yang namanya Orchid House. Setelah Liat – liat di papan Informasi, ternyata Orchid House ini letaknya lumayan jauh dari gerbang utama. Tapi tak apalahh, maju terus pantang mundur.

Di kebon segede dan seluas ini, iseng gag iseng sih jalan sendiri. But Im never really alone, even in fact Im alone. Karena, setelah w ngelewatin koleksi paku, aku ketemu sama 3 orang ibu – ibu bintang lima yang lagi jalan santai. Xixixi itung – itung jadi ada yang nemenin sekaligus nganterin ke Orchid House, akhirnya aku bareng sama mereka. Ikutan jalan santai ala ibu – ibu. Nggak berasa setelah banyak ngobrol sepanjang jalan, akhirnya aku berpisah dengan mereka tepat di depan pintu masuk ke Orchid House. Huuhh jadi sedih deh. Tapi, aku juga exited banget untuk liat koleksi anggrek yang ada di tempat ini. Tadinya aku pikir, untuk masuk ke Orchid House ini bakalan ada cost tambahan, tapi ternyata nggak, semuanya Free.

Setelah masuk kedalam, ternyata tempatnya keren banged. Im lucky! karena lagi banyak anggrek yang berbunga termasuk di dalamnya dari jenis Phanelopsis. Phanelopsis Lidah Kuning, Phanelopsis Lidah merah dan Phanelopsis Ungu yang cuanntiikkk banget. Tempatnya juga disetting sedemikian rupa sehingga menyerupai “Hutan Anggrek”. Bikin betah dan gak mau pulang pokoknya. Di sana juga dibuat kayak semacam sungai dan air terjun buatan yang suara gemericik airnya bener – bener bikin tenang. Keren banged pokoknya.


Inside Orchid House

Phanelopsis Ungu


 





2. Gunung Mas – Telaga Warna
Setelah puas dengan koleksi anggrek di Orchid House, aku langsung melesat keluar. Walaupun agak nyasar – nyasar dikit karena letak Orchid House yang jauh dari gerbang utama. Dari depan Kebun Raya Bogor, aku naik angkot jurusan sukasari dengan tarif Rp 2.000. Langsung nyambung naik angkot jurusan Cisarua dengan tarif Rp 6.000. Hawa sejuk pegunungan udah mulai berasa setelah memasuki kawasan puncak. Bener – bener sejuk dan asyik banget, sesuatu yang gak bakalan pernah bisa ditemuin di Jakarta. Sesampainya di Gunung Mas, mataku bener – bener dimanjain dengan pemandangan kebun teh yang terhampar. Keren banget! Aku istirahat sebentar disana. Menikmati pemandangan sambil makan baso. Muantabb banget dahh.

Dari Gunung Mas seharusnya aku melanjutkan perjalanan dengan naik angkot ke Telaga Warna. Tapi setelah ditunggu beberapa lama gak ada 1 angkot pun yang lewat. Gak kehabisan akal, aku diri disebrang jalan sambil masang tampang sedikit melas. Dan ternyata berhasil, hehehh ada bapak – bapak baik hati yang nawarin aku tumpangan sampe ke telaga warna. Pak Ipin namanya. Gak berasa setelah banyak cerita n ngobrol, aku sampai ditelaga warna. Berpisah lagi deh. Banyak banget orang baik yang aku temuin di sepanjang perjalanan. Bikin petualangan makin seru.

Di telaga warna aku cuma perlu membayar Rp 2.000 untuk bisa menikmati suasana yang menakjubkan. Tempatnya bener – bener bersih, sepi dan nenangin banget. Disana juga merupakan kawasan konservasi alam, jadi banyak monyet – monyet liar yang berkeliaran dan membaur dengan pengunjung. Tapi agak susah buat nyuruh monyet – monyet ini diem untuk difoto. Harus disogok dulu. Alhasil aku harus merelakan snack yang tinggal satu – satunya buat monyet – monyet itu. Tapi gak apa-apa deh.
Telaga warna juga punya fasilitas seru kayk flyng fox. Untuk yang suka menjelajah hutan, disini juga ada fasilitas lintas alam. Cool !!!

telaga warna

monyet yang disogok untuk foto







3.      Kebun Raya Cibodas
Dari telaga warna, aku nyambung naik angkot jurusan Cipanas. Turun pas di pertigaan cibodas tarifnya Rp 2.000 aja. Dari pertigaan aku lanjut naik angkot ke Kebun Raya Cibodas. Tanpa disangka – sangka dan diduga – duga ternyata hujan. Akhirnya aku terpaksa neduh sebentar didepan loket masuk sampe hujan agak reda. Setelah hujannya agak reda –walau belum berhenti– aku langsung beli tiket seharga Rp 6.000 dan melesat masuk. Tujuan utamaku adalah Rumah Kaca yang denger – denger nih, punya koleksi sekitar 312 spesies anggrek yang berasal dari alam liar. Awal masuk ke KBC ini aku disuguhi dengan pemandangan jajaran hutan pinus yang berbaris dari pintu masuk. Baru setelah agak kedalam mulai banyak tumbuh tumbuhan  tropis yang berasal dari dalam dan luar negri. 

Tapi apa boleh dikata, setelah jalan menanjak berkilo – kilo meter jauhnya, ternyata aku harus kecewa, karena anggrek di Rumah Kaca belum pada berbunga. Cuma ada 1 spesies langka yang aku lupa apa nanmanya yang lagi berbunga. Itu pun gak banyak jumlahnya. Cuma ada beberapa pohon, sedangkan dalam satu pohon cuma ada satu kuntum bunga. Huuh, Lumayan bete dan kecewa berat. Tapi di Rumah Kaca itu aku melihat koleksi kaktus yang keren banget. Yahh lumayanlah untuk sedikit mengobati kekecewaan.






4.      Curug
Gak mau kecewa lama–lama aku langsung beranjak menuju tujuan berikutnya. Air terjun yang namanya aku lupa. Untuk sampai kesana aku harus melewati medan yang jalannya naik – turun (kebanyakan naiknya sih) dan melalui jalan setapak berbatu. Ketika di jalan setapak ini, aku harus ekstra hati – hati. Karena waktu itu habis hujan, jadi jalanannya licin banget. Suasananya juga lumayan menantang. Jalan yang lumayan sepi, dan ada di tengah – tengah hutan yang ada di KBC. Setelah jalan berkilo – kilo meter jauhnya, akhirnya mulai terdengar suara aliran air sungai. Jalannya pun mulai menurun lewat anak tangga berbatu. Dan gak berapa lama menuruni anak tangga, mulai terlihat aliran sungai dan selebihnya tinggal ngikutin aliran sungai itu aja.
Setibanya di air terjun semua kekecewaanku yang tadi langsung hilang. Pegelnya kaki karena udah jalan berkilo – kilo meter juga kebayar rasanya setelah melihat air terjun itu. Keren banget!




Setelah puas ngeliat air terjun, aku kembali melalui jalan yang berbeda. Lewat jalan air, yaitu jalan setapak yang dibuat disepanjang aliran sungai yang merupakan terusan dari air terjun itu. Keren banget sungainya, airnya yang bening dan gag terlalu dalem bikin aku bisa melihat dasar sungai dengan jelas. Bebatuan sungai itu juga bikin suasana makin asik. Bener – bener bikin aku berdecak kagum

Puas banget rasanya. Petualangan yang bener – bener seru. Aku jadi berniat untuk pergi ke tempat yang lebih jauh. Semua beban di kepala rasanya rontok. Walaupun sendirian tapi asyik banget.

Pulangnya dari KBC aku naik angkot jurusan cipanas dan berhenti tepat di pertigaan yang pertama aku lewati dengan tarif Rp 2.000. Dari situ aku nyambung naik mini koli langsung ke terminal Baranangsiang, Bogor. Kalo yang ini tarifnya agak mahal. aku harus ngeluarin ongkos Rp 15.000 sampe ke terminal. Tapi, worth it juga sih, soalnya dari Cibodas ke Baranangsiang lumayan jauh juga. Lewat tol lagi. Dari baranangsiang aku nyambung naik angkot ke Stasiun Bogor dan langsung beli tiket Kereta Api kelas ekonomi jurusan Jakarta. Sampe rumah tepat jam 9 malem. Teparr sih, tapi seneng :D




You Might Also Like

0 komentar

Search This Blog