Indonesiaa Oh Indonesiaa

January 25, 2013


Ada peristiwa yang cukup menarik. Seorang kakek 75 tahun-an yang menarik perhatian saya.

Semuanya berawal ketika saya, K Aini dan Kak Wiwit hendak naik kopaja 57 menuju kampus. Ketika kami sudah berada didalam bus, seorang kakek yang naik belakangan tiba – tiba marah – marah dan berkata “Indonesiaa,,, Indonesia,, b**n***k ni Indonesia biasa berhenti disana malah berhenti di sini” katanya. Kakek itu memang menunggu kopaja di tempat pemberhentian biasa, dibawah pohon ceri. Tapi karena kami bertiga menunggu kopaja beberapa meter agak di depan, kopaja jadi berhenti di tempat kami menunggu dan menyebabkan si kakek harus berjalan beberapa meter ke depan untuk naik kopaja. *Hehehe piss kek ^^v

Menariknya sepanjang perjalanan naik kopaja si kakek ini terus ngedumel dan komplain dengan berbagai hal. Yang khas dari dumelan ala kakek ini adalah,, beliau selalu mengawali dumelannya dengan kata – kata “haduuu Indonesia,, Indonesia,,” seolah beliau menemukan banyak hal yang salah dengan “Indonesia”.
Ketika melihat para pria yang duduk cuek dengan membiarkan beberapa ibu – ibu dan orang tua – termasuk beliau – berdiri, si kakek langsung ngedumel. Kurang lebih redaksinya kayak gini,,, ”Indonesiaaa,,, Indonesiaaa,, anak muda gak ada tata kramanya. Gag menghargai perempuan. Lebih baik di Belanda. Di belanda ajja gak ada yang namanya perempuan berdiri laki – laki duduk di kendaraan umum. Gak menghargai orang tua,,  kalau orang jaman dulu bla,, bla,, bla,,,”.

“Begini nih kalo orang jauh dari agama, gak pada solat, jadi gak punya akhlak. Indonesiaa Indonesiaa” si kakek melanjutkan. Dan lucunya,, ketika kakek melihat ada dua orang perempuan yang hendak naik dengan membawa bawaan sebuah kardus cukup bueesaar, si kakek kembali ngedumel dan berkata “haaaduuu Indonesiaa Indonesiaa,, naik kopaja bawa barang segede itu nyusahin orang tuaa”... 
Terlepas dari dumelan kakek yang mungkin bagi sebagian orang lebih menyerupai pisau tajam yang bikin telinga “berdarah – darah” haha*lebayy.. aku rasa kita bisa mengambil beberapa pelajaran yang berharga...

Indonesiaa Oh Indonesiaa
Pertama mungkin kita berusaha memaklumi si kakek usia 70-an dengan emosinya. Karena seperti yang kita tahu, orang tua biasanya cenderung lebih “cerewet”. Karena katanya orang semakin tua semakin kembali seperti anak – anak.

Dari dumelannya kita bisa menangkap sebuah sinyal bahwa si kakek ini banyak melihat “ketidakberesan”. Bis – yang di penglihatan si kakek – berhenti pada tempat yang tidak semestinya, contohnya. Merupakan salah satu bentuk ketidakberesan. Kota Jakarta yang semrawut dan jauh dari kesan “tertib dan disiplin”.

Merupakan fitrah setiap manusia untuk menyukai hal – hal yang teratur dan tertib. Dari sini kita juga bisa melihat bahwa manusia manapun akan “jengah” dengan kehidupan yang tidak teratur, tidak disiplin dan tidak tertib. yaa saya mungkin belum cukup ilmu untuk membahas banyak hal. Tapi bisa kita saksikan sendiri buah dari ketidakdisiplinan di Ibu Kota. Contoh konkretnya adalah terkait masalah banjir kemarin. Ada satu fenomena yang saya anggap lucu. Saya sering melihat mobil belko milik pemerintah DKI yang mengeruk sampah menggunung di pintu air Manggarai, sementara orang – orang buang sampah ke kali, dan ketika musibah banjir terjadi akibat kali “dangkal dan mampet” karena terlalu banyak sampah dan tak sangup lagi menampung air, masyarakat satu suara mengacungkan telunjuk mereka ke arah pemerintah dan teriak – teriak minta banjir diatasi. Indonesiaa oh Indonesiaa.. dan masih banyak contoh lain,, *males nulisnya

Sebenarnya ada satu hal yang sering membuat saya kesal ketika naik kopaja 57. Yaitu ketika kopaja masuk ke jalur busway, sementara jalur busway dijalan Mampang kini sudah dipagari. Tidak terbayang bagaimana orang yang akan turun dan terjebak dijalur busway. Sangat Berbahaya ! saat itu ada teman saya yang bilang “yaa, beginilah jakarta !”.
Yaa memang benar, beginilah jakarta ! tapi seandainya setiap orang sadar untuk menerapkan disiplin, tentu masyarakat tidak akan “amburadul” seperti saat ini. Atau setidak – tidaknya bisa lebih baik dari saat ini.

Belajar Dari Orang Dulu
”Indonesiaaa,,, Indonesiaaa,, anak muda gak ada tata kramanya. Gag menghargai perempuan. Lebih baik di Belanda. Di belanda ajja gak ada yang namanya perempuan berdiri laki – laki duduk di kendaraan umum. Gak menghargai orang tua,,  kalau orang jaman dulu bla,, bla,, bla,,,” =o=”
Saya jadi teringat cerita guru saya waktu di bangku SMA. Katanya  jaman dulu, gag ada yang anak gadisnya masih diluar rumah setelah jam 9 malam. Atau anak lelaki yang bertandang ke rumah gadis sampai larut malam. “pasti udah di usir sama orangtuanya” katanya.

Sang kakek dan mungkin kebanyakan orang tua lainnya melihat adanya pergeseran – pergeseran nilai di kalangan pemuda. Terutama dari segi etika dan moral. Sesuatu yang kalau dalam pelajaran di sekolah dulu disebut sebagai “budaya ketimuran” yang identik dengan keramahan dan sopan santun, kini mulai di tinggalkan. Adab terhadap orang yang lebih tua mulai tak dihiraukan. Saya pernah melihat seorang ibu gaul yang membentak ibunya sendiri di angkot. Hadeeuuh hadeeuuhh, mungkin kalo sang ibu bisa masukkin anaknya kedalam perut lagi, bakalan dimasukkin kali yaa,,,

Atau mungkin seperti cerita guru sekolah saya di atas. Dimana perggaulan antara laki – laki dan wanita dulu mungkin tidak sebebas sekarang. Dulu mungkin terkesan tabu bila ada wanita yang keluar rumah lewat jam 9 malam. Dan dianggap melanggar norma bila ada lelaki yang masih ada dirumah seorang gadis sampai larut malam. Tapi sekarang kita bisa lihat sendiri. Banyak terjadi pergeseran – pergeseran nilai dimana gadis yang “nginep” di rumah pacarnya dianggap sebagai sesuatu yang wajar, dan yang lebih parahhnya orang tua “si pacar” bukannya ngusir malah memberikan pelayanan akomodasi nomor 1. Sampe – sampe saat ini, hamil di luar nikah ajja seolah jadi tren masa kini. Sampe di bikin lagu lagi,, ckckck Na’udzubillah.

Pelajaran Penting Buat sekaRardhiTa !
Pelajaran, kritikan dan cambukan paling berkesan yang saya dapat dari kakek ini adalah masalah kepedulian. Terkadang kalau sudah PW alias Posisi Weenak di bis atau kereta, kita seringnya lupa untuk memperhatikan sekitar dan memberikan “hak” kepada yang “lebih berhak”. Kecualiii mungkin kalau kita merasa diri kita lemah dan tak sekuat nenek – nenek atau kakek – kakek, bolehlah kita cuek – cuek duduk *kita  o.O ? 
Memalukan bukant,, bila kita yang muda duduk sementara kakek – kakek n nenek – nenek malah berdiri. Seolah malah kita yang lebih jompo dari mereka. Hiyyy *denger tu sekarr !!

Back to Islam !
“Begini nih kalo orang jauh dari agama, gak pada solat, jadi gak punya akhlak. Indonesiaa Indonesiaa”. haha

Dari pernyataan di atas, justru yang saya lihat adalah sebuah kerinduan. Kerinduan akan sosok – sosok generasi muda robbani yang shalih amalnya, mulia akhlaqnya dan baik perangainya. Kerinduan akan goresan  warna – warni islami ditengah masyarakat. Dan bagian ini adalah solusi dari semua problema.
Islam adalah jalan yang senantiasa menyeru kepada kebaikan. Kita lihat bagaimana islam mengajarkan kita masalah kedisiplinan, adab dan norma  - norma dan juga kepedulian terhadap sesama. Kita juga lihat bagaimana islam mengatur pergaulan antara satu manusia dengan manusia lain agar senantiasa tercipta kerukunan dan kedamaian. Masalah ini tidak akan saya bahas karna udah banyak literatur lain yang bahas, silahkan baca di buku laen ajja.

Yang saya ingin ceritakan adalah suatu hari di stasiun saya tanpa sengaja mendengarkan pembicaraan dua orang bapak – bapak yang dengan nada kesal membicarakan para koruptor. Kurang lebih perbincangan mereka seperti ini.

 “kalo aja mereka itu diadili pake hukum islam, potong ajja tangannya biar pada kapok.” Kata orang pertama

“betul betul tu” kata yang lain menimpali

“islam kan adil gag pandang bulu, biar tau rasa mereka. Masa maling ayam ajja dihukumi sampe belasan tahun, sementara mereka pada maling uang rakyat dihukumi setahun dua tahun ajja” lanjut orang pertama.

“iya, enak benerr ya, mereka di hukum setahun dua tahun bebas, udah bisa nikmatin hasil korupsinya lagi” timpal yang lain lagi.

Saya tersenyum dalam hati. Mungkin ungkapan – ungkapan diatas adalah kata – kata jujur dari ummat yang mulai “gerah” dengan sistem yang penuh dengan ketidak adilan, hidup yang semrawutan dan hukum yang bisa dengan mudah dibeli. Ungkapan – ungkapan diatas adalah ungkapan jujur ummat yang merindukan tegaknya syariat islam di bumi Allah, ungkapan – ungkapan jujur yang mengakui keadilan hukumNya. Ungkapan –ungkapan Kejujuran ummat yang rindu akan sosok pemimpin yang adil, amanah dan takut kepada TuhanNya. Dan ungkapan  kejujuran ummat yang rindu dengan kehidupan masyarakat yang robbani dan madani dibawah naungan Islam.. mungkin inilah titik awal kemenangan dakwah kita.
Semangaat para pejuang dakwah ! 

Allohu’alam bish Showab

You Might Also Like

0 komentar

Search This Blog