Botol Air

February 01, 2013

Suatu hari saya menceritakan sebuah masalah yang menurut saya sangat mengganggu pikiran kepada seseorang. sebenarnya saya sendiri bukan tipe orang yang suka menceritakan permasalahan saya kepada orang lain karena saya tahu resikonya. kesalahpahaman !.
tidak semua orang mampu untuk mengerti permasalahan yang dihadapi orang lain. ada kalanya orang yang menjadi tempat "curhat" kita mengatakan "ayolahh, ini hanyalah masalah kecil!" atau bilang "tinggal melakukan ini saja, beres kan!" atau "yaa kalo gitu begini saja, simple kant!" tanpa menilik kembali keadaan kita.

haha yasudahlahh, bukan itu yang ingin saya ceritakan.
yang ingin saya ceritakan adalah, semua ini membuat saya teringat disaat saya mengikuti sebuah seminar motivasi yang saya lupa membahas tentang apa.

Pada saat itu sang motivator mengambil sebuah botol air mineral. sang motivator menyodorkan bagian atas botol kepada salah seorang peserta sambil berkata "apa yang anda lihat ?".
                 "tutup botol" jawab sang peserta.
                 " Ya benar, ini tutup botol dengan bentuk bulat biru kecil" kata sang motivator. lalu sang motivator itu berjalan kearah peserta lain dan menyodorkan bagian bawah botol. dia berkata "apa yang anda lihat ?"
                 "sebuah bulatan ukuran sedang yang transparan" jawab peserta.
                 "ya, anda benar" katanya. lalu sang motivator berjalan menuju peserta yang lain lagi. kali ini dia menegakkan botol air tersebut diatas telapak tangannya sambil berkata "apa yang anda lihat?".
                " Sebuah BOTOL" jawabnya.

Andaikan botol air itu diumpamakan seperti sebuah masalah. maka adakalanya setiap orang memandang dengan sudut pandang yang berbeda. saya menyadari hal tersebut. dan terkadang mungkin itulah sebabnya   kita perlu menceritakan permasalahan berat yang sedang kita alami kepada orang yang dapat kita percaya. untuk berusaha melihat dari sudut pandang lain. untuk berusaha mencerna kemungkinan - kemungkinan lain. untuk berusaha memecahkan masalah dengan jalan - jalan lain yang mungkin bisa terbuka disaat kita melihatnya dari sudut pandang berbeda.

Dan mungkin adakalanya juga kita berperan sebagai seorang yang dititipi amanah untuk "mendengarkan". Maka, disaat kita mengambil peran ini seharusnya kita juga bisa bersikap dengan bijak untuk menyampaikan sudut pandang kita, sekaligus juga berusaha memahami dan mengerti tentang bagaimana cara kawan kita memandang masalahnya tersebut. karena bantuan yang baik dengan cara yang tidak tepat di waktu dan kondisi yang tidak tepat pula, hanya akan membuahkan kesalahpahaman dan  kekecewaan yang amat menyakitkan bagi kawan kita.
Tidak mungkin kita bisa menjadi seorang penolong yang baik jika kita bertindak untuk menyelesaikan masalah kawan kita, yang kita lihat sebagai tutup botol, sementara kawan kita tersebut melihat masalahnya sebagai sebuah botol air.

dan satu hal yang tidak kalah penting. permasalahan terkadang bukanlah sesuatu yang orang suka bila orang lain mengetahuinya. maka disaat kita berperan sebagai kawan atau pendengar yang baik, hendaklah bersikap bijak untuk menjaga amanah - amanah yang diberikan kepada kita untuk menjaga "privacy" kawan kita tersebut. dan sekalipun kita "merasa" memerlukan bantuan "pihak ketiga", jangan sampai kita mengambil tindakan tanpa persetujuan kawan kita yang notabene-nya adalah si "empunya" masalah. karena sekali lagi, kita tidak akan pernah bisa menjadi penolong atau pendengar yang baik jika kita bertindak "dengan sendirinya" untuk menyelesaikan masalah kawan kita yang kita lihat sebagai tutup botol, sementara si "empunya masalah" melihatnya sebagai botol air.

Allohu'alam Bish Showab..
Semoga Allah mengampuni Ardhita Sekar..

You Might Also Like

0 komentar

Search This Blog