Mengetuk Pintu Paksa (Belajar dari Sholahuddin al Ayyubi)

July 09, 2013

"Mengetuk Pintu Paksa" merupakan salah satu topik yang diulas Salim A. Fillah dalam buku beliau "Jalan Cinta Para Pejuang". didalam topik ini beliau mengulas singkat tentang perjalanan hidup salah satu panglima perang favorite saya yaitu Shalahuddin Al Ayyubi sang pembebas Al-Quds. saya pribadi merasa sangat mengena pesan yang coba disampaikan penulis mengenai betapa terkadang didalam mendekatkan diri kepada Allah kita kita perlu memaksa diri sendiri, berjihad melawan hawa nafsu, menundukkan sisi negatif diri, sembari berharap Allah akan menurunkan cahaya hidayahNya kedalam hati kita. sehingga sekalipun awal - awal mungkin terasa berat, tapi lalu lama kelamaan jadi terbiasa, lama kelamaan terasa nikmat dan malah menjadi sebuah kebutuhan kita akan kedekatan kepada Allah.. :)

So sobat,, yuk simak tulisan Ust. Salim A. Fillah berikut,,

******************************************************************************

Mengetuk Pintu Paksa

saat aku lelah menulis dan membaca
di atas buku - buku kuletakkan kepala
dan saat pipiku menyentuh sampulnya
hatiku tersengat
kewajibanku masih berjebah,
bagaimana mungkin aku bisa beristirahat?
-Imam An Nawawi-


"Aku merasa bagai hewan sembelihan", tulis seorang pemuda yang kelak menyejarah, "Yang digiring ke padang penjagalan." itulah yang dirasakannya ketika sultan Nuruddin Mahmud Zanki memerintahkannya menyertai sang paman mempertahankan Mesir dari serbuan Amalric, Raja Yerussalem di tahun 1164. "seakan jantungku ditoreh belati", ia melanjutkan penuturannya sebagaimana di rekam oleh sejarawan Ibnu Syaddad dalam karyanya Al Mahaasin Al Yusufiyyah. "Dan ketika itu aku menjawab: Demi Allah, bahkan seandainya aku diberi seluruh kerajaan Mesir, aku takkan berangkat!"

Pemuda ini begitu membenci pertempuran, ngeri membayangkan darah, bergidik melihat luka, dan tak tega mendengar jerit kesakitan. Ia tenggelam dalam keasyikan akan hobi-hobinya. Ia suka bermain bola. Ia gemar bertamasya dengan kuda anggunnya. Ia fasih bersyair. Ia ganteng dan flamboyan. Ia melankolik. Ia sensitif. Ia gampang menitikkan air mata oleh hal - hal sepele. Ia sakit - sakitan. Semua kondisi dan perjalanan masa mudanya membuat banyak sejarawan enggan menuliskan pertiga awal hidup pemuda ini. Menurut para sejarawan itu, kisah masa mudanya akan membuat keseluruhan sejarah hidupnya ternoda.

Pendapat para sejarawan ini dibantah Dr. Majid 'Irsani Al Kilani dalam disertasinya, Haakaadzaa Zhahara Jiilu Shalahiddin. Menurutnya, mengisahkan masa mudanya akan menampakkan betapa Islam memang bisa mengubah sesosok pribadi lembek menjadi pribadi pejuang. Bahwa celupan Ilahiyyah memang mampu menyusun ulang komposisi jiwa seseorang. seorang pengecut bisa menjadi pemberani. seorang pecundang dimasa lalu, tak kehilangan peluang menjadi pahlawan dimasa depan

Inilah jalan cinta para pejuang. Sungguh hidayah Allah itu diberikanNya kepada siapapun yang dikehendakiNya. maka di jalan cinta para pejuang, kita tidak boleh memandang tinggi diri sendiri dan merendahkan orang lain, apalagi menyangkut masa lalu.

Kembali kepada pemuda yang menarik hati ini. sejak tahun 1164 itu memang hidupnya berubah. Dulu ia membayangkan semua hal dalam pertempuran sebagai kengerian belaka. Tetapi begitu sultan Nuruddin dan sang paman Asaduddin Syirkuh, memaksanya terjun ke kancah jihad, ia terperangah. Meski kengerian itu tetap, ia menemukan banyak keindahan. Persaudaraan. Pengorbanan. Rasa dekat dengan maut. Kekhusyu'an. Kenikmatan ibadah. Keberanian. Kepahlawanan. Akhirnya ia menemukan gairah yang begitu menggelora untuk membebaskan kiblat pertama ummat Islam, Al Quds, dari penjajahan Salib. Hidupnya tak pernah sama lagi.

Setiap debu yang menempel di jubahnya dalam jihad dari tahun 1164 hingga wafatnya di 1193, ditapisnya dan dihimpun. Ia berwasiat agar debu-debu itu dijadikan bulatan - bulatan tanah pengganjal jasadnya diliang kubur. Ia berharap debu-debu itu menjadi saksi baginya nanti dihadapan Allah. Semoga Allah memuliakannya. Pemuda itu bernama Yusuf. Tapi kelak kita memanggilnya Shalahuddin al Ayyubi

*****************************************************************************
terkadang kita memang perlu memaksa diri kita sendiri untuk mendekat padaNya,.. Terkadang perlu memaksa diri untuk bisa merasakan betapa indah apabila kebersamaanNya menyertai di setiap helaan nafas kita.. terkadang perlu memaksa diri untuk kita bisa menyadari bahwa dengan cahaya Allah, kita bisa menjadi lebih dari diri kita saat ini.. :)

Semangaadd :D,, semoga tulisan singkat diatas bisa memberi banyak inspirasi untuk belajar dan mendorong diri kita berusaha hingga ke titik maksimal dalam beribadah kepada Allah, terutama di bulan Ramadhan ini. Bulan yang diberkahi.. semoga Allah melimpahkan hidayahNya kepada kita semua. Aamiin :D




~tiap kali akan berhenti
melangkahlah sejejak lagi
bersabarlah sebentar lagi
dan tiap kali akan berhenti
melangkahlah sejejak lagi
bersabarlah sebentar lagi
dan begitu,, tiap kali akan berhenti~ Ardhita Sekar

**Special for Someone :)**

You Might Also Like

0 komentar

Search This Blog