Masa Muda

January 21, 2014

Sekitar setahun lalu saya pernah mengajar AlQuran beberapa orang ibu-ibu. Salah satu dari mereka adalah nenek-nenek sepuh yang selalu semangat menghadiri pertemuan. Usia beliau mungkin sekitar 70/80. Seperti lazimnya wanita seusia beliau sudah lemah tubuhnya, jalannya tertatih-tatih, pendengarannya pun sudah berkurang hingga tidak jarang ketika belajar beliau mengatakan kepada saya "yang sabar yaa neng, ngomongnya agak kenceng. Emak kupingnya udah 'budeg'" begitulah. Dan yang membuat saya terharu adalah semangat belajar beliau yang luar biasa. dengan segala keterbatasan beliau, beliau sangat rajin datang mengaji hampir tidak pernah absen. Beliau sangat ingin bisa membaca AlQuran dengan lancar, sekalipun beliau menyadari sudah tidak muda dan pada waktu itu bacaan beliau baru sampai Iqro jilid ke-2, tapi saya melihat kesungguhan yang luar biasa dalam diri beliau. Dengan terbata-bata beliau melafalkan setiap hurup yang dibacanya sembari berusaha mengingat huruf-huruf itu. Bayangkan, diusia segitu bahkan mengingat satu hurufpun menjadi sesuatu yang luar biasa sulitnya mengingat kemampuan pikirannya yg sudah sangat lemah. Ahh, semangat itu.. sangat luarr biasa. Semangat yang membuat saya yang masih muda merasa malu bila malas belajar Qur'an. Semoga Allah merahmati beliau dimanapun berada.

Saya bersyukur kepada Allah. Pertemuan saya dengan beliau memang singkat tetapi memberikan saya banyak pelajaran.
Ada satu pelajaran berharga lain, selain semangat belajar Qur'an beliau yang sangat luarr biasa tersebut. Seringkali ketika belajar, dengan raut kesedihan beliau mengatakan kepada saya "Emak pengen banget bisa baca Qur'an neng. Dulu emak waktu muda gak tau ngaji (maksudny, tdk mengikuti pengajian)"..

Inilah yang kadang saya, atau mungkin teman-teman yang membaca tulisan ini lupa untuk syukuri ialah bahwa masa muda itu hanya datang sekali saja. Seiring berjalannya waktu tubuh kita makin melemah, pandangan mata kita makin mengabur, pendengaran semakin berkurang, pikiran semakin tumpul, lidah berubah menjadi kaku.. pada saat itu ketika kita bertemu al-Quran, membuka lembaran-lembarannya, mengagumi keindahan isinya yang sedari dulu kita tiada menyadarinya, tetapi saat itu tak mampu lidah kita melafalkan ayat-ayat indahNya, tak mampu memaknainya,, hanya tinggal penyesalanlah yang tersisa diakhirnya.. lalu dengan perasaan terhujam, akan muncul pertanyaan kita terhadap diri kita sendiri, "kemana saja masa muda itu saya habiskan selama ini?".
Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah ini. Manfaatkanlah masa muda kita untuk belajar sebanyak-banyaknya dan berbuat baik sebanyak-banyaknya. Agar tiada terjadi kisah seperti diatas terhadap diri kita sendiri. Agar tiada penyesalan kelak dimasa tua..

Hidup didunia hanya sekali, dihadapan kita ada negeri akhirat yang jauh, belum pernah kita datangi. Sebagai orang yang beriman, kita tentu kelak ingin bermain di taman-taman surga, dekat dengan Tuhan. Maka, inilah AlQuran sebagai pedoman. Saya selalu meñgbaratkan AlQuran seperti peta petunjuk jalan. Bila Akhirat dan surga ibarat negri asing yang jauh, AlQuranlah petanya. Lantas bàgaimana bila membacanya  kita tidak bisa? Jangan-jangan nanti kita malah nyasar keneraka.. hiyyy

Allahu'alam bishshowab..
Semoga Allah berikan taufik dan hidayahNya kepada kita semua..

You Might Also Like

0 komentar

Search This Blog