Catatan Lama "yang Terkenang"

February 14, 2014

Ini adalah catatan yang aku tulis hampir 3 tahun yang lalu kurang lebih dua bulan setelah kepergian adik perempuanku. entah kenapa tiba-tiba aku ingin membuka kembali catatan ini, dan saat membukanya ternyata catatan ini masih ampuh untuk membuatku mengeluarkan airmata. Ahh, tapi sudah tiga tahun berlalu. aku rasa saatnya sudah lebih tepat untuk aku tulis didalam blog ini. Kematian hanyalah perpisahan yang sementara. Semoga kelak Allah mengumpulkan kami kembali di SurgaNya. dan semoga kami disini yang masih diberikan kehidupan dapat mengambil pelajaran dari kisah sebuah kematian. untuk mempersiapkannya, mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya..

********************************************************************************


Friday, May 20th 2011, @ 23.39 p.m
Pernahkah suatu ketika kau merasa lapar,,? Saangaat lapar, kau habiskan apa saja yang ada dihadapanmu, tapi disaat yang bersamaan airmatamu tak berhenti bercucuran. Pernahkah kau melahap semua yang kau  suka sambil menangis?

Gelakkan tawa itu kini tak lagi ada ditengah – tengah kami. Ah, lucunya sepanjang malam aku habiskan hanya untuk mengenang kejadian – kejadian lucu dan seru bersamanya sambil menangis... haha bagaimana bisa? ini lucu, tapi kenapakah airmataku tak juga berhenti menderu?

Aku jadi ingat saat kami berdua menonton sebuah drama korea yang aku lupa apa judulnya. Kami berdua duduk manis didepan tivi. Saat itu lampu ruang tengah kami mati, baru saja putus dan belum sempat diganti. Kami nonton dengan suasana mirip seperti di bioskop – bioskop.  gelap, hanya suara percakapan dari drama korea itu yang terdengar. Dia duduk disebelahku. Kami berdua tidak bicara apa – apa selama drama itu diputar. Hanya suara hembusan nafas kami yang terdengar samar – samar. Film itu sangat mengharukan, kisahnya tentang seorang remaja lumpuh yang semangatnya tak pernah reda. Saat itu pun aku tak sanggup menahan airmata. Tapi untuk menangis terang – terangan rasanya agak memalukan, nanti dia malah mengejekku pasti. Suasana gelap ruang tengah saat itu sangatlah menguntungkan. Diam – diam aku meraba apapun yang ada untuk menyeka airmata dan anehnya saat itu dia juga melakukan hal yang sama. Dan saat kami saling melihat satu sama lain, ternyata mata kami sama sembab. Dia juga menyembunyikan tangisnya karena takut aku ejek. Haha. Saat itu kami saling tertawa dan saling mengejek, padahal sama – sama menangis. 
 “Jiaah, ternyata kakak nangis juga,” katanya sambil tertawa.  Aku juga tertawa. Kami tertawa. Tangisan yang indah.
 
Ah, akhir – akhir ini aku banyak liat di tivi – tivi dan majalah. Mary kate & ashley Olsen, cathy & julie, Shireen & Zaskia Sungkar. Lama – lama aku mulai cemburu. Sebelumnya kami adalah pasangan yang lebih hebat dari mereka. Haha sungguh! Tapi selain pada mereka, sekarang aku juga mulai cemburu saat melihat dua gadis kecil duduk – duduk sambil makan es krim dipinggir jalan. Dulu setiap aku punya uang lebih aku suka mentraktirnya makan es krim. Malam – malam kami pergi ke daerah komplek perumahan yang letaknya tak jauh dari rumah kami untuk membeli dua buah es krim dan menghabiskannya dijalan, atau kami duduk – duduk di taman pinggir jalanan komplek perumahan itu.  Sambil bercerita apa saja yang kami suka. Sampai es krim kami habis dan kami pulang dengan perut kenyang.

Setiap hari minggu kami biasa melakukan petualangan seru. Pagi – pagi sampai siang hari kami berkeliling masuk ke kampung – kampung dengan sepeda motor milik ayah. Dia adalah pembalap yang hebat, karena hobinya mengendarai motor dengan kecepatan diatas rata – rata, mungkin dia merasa bebas saat melakukan itu. Entahlah. Tapi jalan – jalan minggu sangat seru. Motor ayah sering mati mendadak ditengah jalan, belum lagi remnya yang tidak terlalu pakem, membuat merasa agak ngeri orang yang mengendarainya. Tapi justru disitu letak serunya. Pernah saat sedang kebut – kebutan dijalan lalu tiba – tiba mobil didepan kami berhenti, spontan kami teriak sambil mengerem motor yang hampir – hampir menabrak. Kami teriak sekeras – kerasnya sambil tertawa terbahak – bahak.

                “parah lo kak!” katanya sambil cekikikan karena tegang. Saat itu memang aku yang mengendarai motornya.  Atau sering juga motor ayah mati ditengah jalan. Dan peraturannya, siapapun yang dibonceng harus tanggap untuk langsung turun dan mendorong motor sampai kepinggir. Yaa daripada disambitin sama pengendara lain yang pada rewel dibelakang. Tapi disitu aku merasa kami sangat kompak. Aku yakin seyakin – yakinnya pasti Mary kate dan Ashlee Olsen tidak pernah melakukan yang kami lakukan saat mobil mereka mogok di tengah perjalanan menuju acara malam penghargaan.

Banyak sekali hal yang kami lalui dan bagi bersama. Selama belasan tahun kami berbagi kamar kami. Dan sekarang kamar itu terasa sangat sepi. Padahal dulu, sebelum tidur kami sering saling bercerita dan bercerita adalah bagian yang paling aku suka. Dia banyak mengatakan tentang cinta pertama. Cinta pertama yang tak pernah mati sampai saat ia pergi. Saat aku merasa ketakutan, aku seringkali pindah ketempat tidurnya yang ada disebrang tempat tidurku. Lalu dia akan bergeser memberi aku ruang sambil menggerutu kesal karena aku ganggu tidurnya. Haha,, lucu sekali...

Dia adalah sahabatku satu – satunya. Saat orang lain seolah hanya jadi pajangan, dia menjadi satu – satunya yang benar – benar hidup dimataku. Hidup untuk saling bercerita dan berbagi. Hidup untuk bersama menaungi hari – hari. Daridulu aku selalu merasa bangga. Karena tak banyak teman – temanku yang punya adik perempuan sebaya. Walau seumur hidupku, tak pernah sekalipun aku katakan padanya bahwa aku menyayanginya. Tapi seharusnya dia sudah tahu. Karena itulah persaudaraan. Jalinan – jalinan cinta yang merekat dalam diam. Melodi – melodi yang bernyanyi dalam sunyi. Kau tak perlu mengatakannya. ejekan – ejekan yang menghadirkan gelak tawa, atau sepotong es krim yang menghangatkan malam kami yang dingin adalah ungkapan cinta yang bahkan jauh lebih indah dari berjuta – juta puisi yang telah aku rangkai. 

Ya Robbi, sungguh nikmatMu terlalu besar untuk aku dustai. Walau hati teriris – iris, saat aku kenang ketika kami mandi bersama. Saat itu tubuh kami masih muat untuk berendam didalam bak plastik ukuran sedang yang ada dikamar mandi. Dirumahku tidak ada mesin pompa air, untuk mendapat air, kami menggunakan kompa manual yang batangnya terbuat dari besi. Menariknya dari atas kebawah. Saat itu kami bergantian. Saat salah satu dari kami mendapat giliran mengompa, maka yang lainya berendam didalam bak menunggu air keluar dari paralon yang ujungnya tersambung dengan mulut kompa. Saat air keluar dari paralon, maka air itu akan langsung mengguyur badan yang berendam didalam bak. Rasanya menyenangkan. Lalu kami bergantian saling meng-keramasi rambut. Seolah kami ini adalah seorang pekerja di salon profesional. Haha lucu sekali rasanya! Dua bocah kecil yang senang main – main air.

Tapi hari itu sedikit berbeda, banyak bak – bak plastik yang diletakkan disekitarnya. Hampir – hampir aku tak sadar. Oh Mugi, apakah hari ini giliranku untuk mengompa ? tapi kulihat air mengalir dari selang yang terhubung dengan keran milik tetangga. Apakah hari ini kita akan main air lagi? aku lihat kau sudah terbaring resah menunggu guyuran – guyuran air yang rasanya menyenangkan itu. tapi disini terlalu ramai, ada ibu menatap kita dengan mata yang merah, dan wanita asing yang entah apa yang daritadi dia bicarakan, aku tak mengerti. Tidakkah kau lihat ???

Ah, tolonglah seseorang banting aku !!!! hingga saat kusentuh kulitnya yang beku, sebeku es krim yang menghangatkan malam kami yang penuh canda. Airmata yang berderai – derai, tapi kali ini bukan karena sebuah film drama korea dan lagipula tak kutemukan apapun untuk menyeka airmata. Dan sampai disini, sudah tak sanggup aku tuliskan lagi. 

Yaa Robbi, kehedakMu adalah apa – apa yang terbaik bagi kami. Kami menyayanginya tapi Engkau lebih menyayanginya,,, maka insyaAlloh  aku rela..


Terkadang waktu berjalan
sedemikian cepatnya tanpa memberi kita kesempatan untuk berpikir sebenarnya
apa yang sedang terjadi pada diri kita sendiri.

You Might Also Like

0 komentar

Search This Blog