Koran By Heart: Djamil, AlQuran dan Kemuliaan

May 09, 2014


Pagi ini tiba-tiba gak dapet izin keluar dari rumah samasekali. Tapi beberapa anak yang tau bahwa aku ada dirumah datang untuk sekedar bermain disini. Akhirnya mereka aku setelkan salahsatu film yang paling aku suka. Salah satu yang sudah cukup lama tidak aku lihat yaitu Koran By Heart.
Aku menyadari mereka mungkin agak gak ngerti dengan jalan ceritanya karena film yang ada padaku gak ada subtitle Bahasa Indonesianya. Tapi setidaknya aku ingin mereka melihat dan mendengar bacaan alQuran dari anak-anak luar biasa di film ini.




Film ini merupakan film documenter dari lomba hafalan Al-Quran Internasional yang diselenggarakan di Mesir. Lomba ini diikuti oleh 110 peserta dari 72 negara. Melihat film ini, subhanallah ada banyak sekali pelajaran yang bisa didapat. Ada tiga peserta yang paling disorot dalam film documenter ini salah satunya adalah Djamil, seorang anak berusia 10 tahun dari Senegal yang telah hafal al-Quran.

Ada sesuatu yang menarik setiap aku melihat Djamil. Ketika pertama kali memunculkan dirinya, film ini menampilkan adegan Djamil dan Ayahnya yang sedang berjalan ditepi pantai sambil bersama membaca Al-Quran, tepatnya Surat Al Baqarah ayat 164 yang menceritakan kebesaran Allah swt. Subhanallah, luar biasa cara ayahnya Djamil memberikan pelajaran kepada dirinya. Sambil merangkul Djamil, sang Ayah merentangkan tangan ke langit luas dan membaca “…wa maa anzalallohu min as-samaa’ (dan apa-apa yang Allah turunkan dari langit)” Al-Baqarah : 164, lalu Djamil melanjutkan bersama ayahnya hingga akhir ayat :’) “……dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (Al-Baqarah : 164).

Djamil dan Ayahnya ditepi pantai
Luar biasa,, mengajarkan anak untuk memahami ayat yang menceritakan kebesaranNya dengan mengajaknya melihat langsung. Ayahnya merangkul Djamil menunjukkan bahwa sang Ayah mengajarkannya dengan kasih sayang dan ketulusan membuat sang anak tumbuh rasa sayang dan cintanya terhadap alQuran. Aku jadi sering membayangkan mungkin suatu saat aku perlu merekomendasikan kepada ayahnya anak-anakku untuk mengajarkan mereka alQuran seperti ayahnya Djamil mengajarkannya, hingga ia bisa tumbuh jadi anak yang mencintai alQuran dan sudah mampu menghafalnya ketika berusia 10 tahun :’)

Dalam wawancara setelahnya Djamil menyatakan kesenangannya belajar Al-Quran. “My parents told me to learn Quran before anything else..” tuturny dalam bahasa lokal. “Every muslim should learn Quran. I like the way the letters look, the way its written and how my teacher teaches it.” Lanjutnya. Luarr biasaa bagiku..

Tapi pelajaran yang paling berkesan aku tangkap dari seorang Djamil adalah betapa Allah memuliakan dan mengangkat derajat orang yang dekat dengan Al-Quran tanpa memandang siapa dia, dari mana asalnya, bagaimana rupanya, kaya atau miskinkah ia... Jadi ceritanya, ketika perlombaan berlangsung dan tiba giliran Djamil, ia mendapatkan soal sebuah ayat yang sering muncul didalam Al-Quran membuat ia keliru ketika melanjutkan ayat tersebut. Djamil sampai menitikkan airmata. Karena tersentuh, para juri memberikan Djamil kesempatan untuk membaca alQuran di salah satu masjid besar di Kairo. Djamil membaca dihadapan jamaah masjid tersebut.
Ah, aku membayangkan apa yang akan terlontar dari mulut orang-orang ketika pertama melihat film ini dan pertama kali melihat Djamil? Mungkinkah rata-rata mereka akan mengatakan seperti yang dikatakan anak-anak yang berkunjung kerumahku ketika melihat Djamil. “siapa itu kak? Hitam sekali”,, dalam pandangan manusia mungkin Djamil adalah anak yang *maaf* banyak kekurangan fisiknya. Kulitnya hitam seperti layaknya anak-anak yang berasal dari Afrika. Tetapi yang menarik adalah setelah Djamil selesai membaca al-Quran di masjid tersebut, orang-orang mengerumuninya, menciumi tangan dan keningnya bahkan ada yang meminta berfoto dengannya. Dengan wajah polos Djamil berfoto dengan orang yang memintanya tersebut. Saya sangat tersentuh melihat adegan itu.

Yang aku lihat adalah betapa Allah sungguh-sungguh mengangkat derajat para ahli al-Quran dan memberikan mereka kemuliaan ditengah-tengah manusia tanpa memandang siapa dia, bagaimana rupanya, kaya atau miskinkah ia. Inilah kemuliaan yang sesungguhnya dan merupakan anugrah yang Allah berikan kepada siapapun yang dikehendakiNya. Menjadi mulia karena Al-Quranlah yang ada didalam dada, dicintai dan dihormati manusia karena Allah mencintainya, mencintai para penghafal al-Quran bukan dicintai karena rupa atau harta.
Aku lihat Djamil sangat bertolak belakang sekali dengan orang-orang yang sengaja mencari pandangan ditengah manusia dengan berusaha kelihatan cantik/tampan dan menganggap bahwa kemuliaan itu berasal dari keterpikatan mata terhadap rupa yang menawan. Ah itu kemuliaan yang semu.

Yaa pada akhirnya, saya sangat tersentuh melihat Djamil dalam film ini. Bocah kulit hitam berusia 10 tahun dari daratan Afrika, penghafal Alquran. saya terkagum dengan cara ayahnya memberikan pelajaran kepada Djamil dan saudara-saudaranya. Karena diakhir film ini ditampilkan adegan ketika keluarga Djamil yang sederhana sedang menyantap makanan bersama. Ayahnya berkata “Siapa yang menguasai Al-Quran, suatu saat akan pergi ke Mesir insyaaAllah J” untuk memberikan pelajaran kepada anaknya yang kecil-kecil.
Ah, luarr biasa.. kemuliaan itu dengan kita dekat dengan Tuhan Semesta Alam, Allah swt. Bukan dengan selainNya.. Allahu’alam bishshowab :’)




"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupamu dan hartamu, tetapi Dia melihat hatimu dan amalanmu" (HR Muslim)

"Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga diantara manusia. para sahabat bertanya "siapakah mereka yaa Rasulullah?" Rasulullah menjawab "Para ahli alQuran, mereka adalah keluarga Allah dan pilihan-pilihanNya" (HR Ahmad)

You Might Also Like

0 komentar

Search This Blog