Quran Camp Story part 1: The Beginning

July 23, 2015


Ramadhan emang udah lewat sih, tapi ada banyak banget hal yang belum sempat aku tulis.  Ramadhan tahun ini terasa beda dari tahun-tahun sebelumnya. Untuk pertama kalinya aku mengikuti program karantina menghafal Al Quran selama sebulan di Sukabumi. Tepatnya di desa Cisaat, Sukabumi. Program ini diselenggarakan oleh salah satu yayasan pendidikan Islam yang ada di sana, yaitu YPI At Tartil. Ada begitu banyak pengalaman berharga yang aku dapatkan selama di sana. Mulai dari perjuangan bersama Al Quran, bertemu dengan teman-teman baru yang luarr biasa, belajar lebih rapi dan mandiri saat jauh dari orang tua, sampai kemukjizatan Al Quran yang begitu kental aku rasakan ketika aku berada disana. Begitu banyak hal berharga yang ingin sekali aku tuliskan kisahnya. 

Kalau Memang Takdirku, Dia Akan Membawaku ke Sana Bagaimanapun Caranya… 
setidaknya itulah yang aku pikirkan di awal niatku untuk mengikuti program ini. Jujur saja banyak hal yang aku hadapi. Mulai dari raut tidak setuju yang aku baca di wajah kedua orangtuaku, tugas-tugas kuliah dan kampus, tugas organisasi, tugas di tempat mengajar dan masalah biaya.

Dan tentang kedua orangtuaku, aku rasa aku bisa mengerti. Saat ini bisa dibilang kalau akulah satu-satunya anak mereka yang ada dirumah. Adik laki-lakiku tinggal di pesantren sementara adik perempuanku sudah meninggal sekitar 4 tahun lalu ketika duduk di bangku SMA. Jadi selama ini aku seperti anak tunggal di rumah. Kalau aku pergi kedua orangtuaku tinggal sendirian. Apalagi program ini selama sebulan dan sebelumnya aku tidak pernah meninggalkan rumah selama itu. Tetapi aku merasa kalau aku butuh untuk ikut program ini. Selama ini kesibukan di luar banyak menyita waktuku dengan Al Quran. Dan kali ini aku ingin Al Quran-lah yang menyita waktuku dari hal lainnya.

Dan pada akhirnya Ibu mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan kata-kata “Boleh pergi, tapi ibu gak mau ngasih kamu uang,” yang aku jawab dengan “ok” dan senyum di bibir. Gak masalah, rezeki-kan Allah yang ngatur. Kalau memang pergi ke sana adalah bagian yang Allah tetapkan untukku, Dia pasti akan membawaku ke sana bagaimanapun caranya.

Saat itu jujur aja, aku memang gak punya uang. Maklumlah mahasiswi tulen. Walaupun biaya program ini bisa dibilang teramat sangat murah pake banget banget banget yaitu cuma 400 ribu rupiah aja. Serius aku bilang murah banget binggow, karena yang aku tahu biaya untuk program sejenis ini selama sebulan bisa mencapai 5 juta. Tapi sekali lagi, saat itu aku terus berusaha yakin bahwa mudah saja bagi Allah memberi aku uang 400 ribu untuk pergi ke sana. Ketika itu yang aku lakukan adalah banyak berdoa untuk minta yang terbaik kepada Allah, sambil berusaha mencari biaya 400 ribu. Aku selalu yakin bahwa do’a adalah senjata utama bagi seorang mukmin. Bahwa dengan do’a apapun bisa kita lalui. Karena Allah akan selalu membersamai kita melalui doa-doa kita, dan apapun adalah mudah bagiNya.

Dan terjadilah hal yang tidak aku duga sebelumnya. Jadi ceritanya, aku awalnya memang mendapat informasi tentang Quran Camp ini dari seorang teman kampus. Putri beliau adalah santri di sana dan beliau merekomendasikan acara ini padaku. Saat itu aku bilang “InsyaaAllah bu, kalau ada rezekinya Sekar akan ikut”. Lalu beliau mengingatkan aku untuk daftar saja dulu. Memang sih, saat itu aku belum daftar. Aku lihat batas akhir pendaftaran adalah tanggal 20 Mei, “masih banyak waktu” pikirku. Tadinya aku ingin berusaha mendapatkan uang dulu, baru mendaftar. Tapi karena diingatkan oleh beliau, akhirnya aku mendaftar dengan mengirimkan format pendaftaran ke nomor whatsap yang ada di pamflet. Setelah itu aku diminta mengirim biodata, surat pernyataan calon santri dan juga rekaman suaraku yang isinya tilawah surat Al Qiyamah: 20-40 untuk diseleksi.

Singkat cerita, aku lolos seleksi. dan tiba-tiba saja aku teringat teman kampusku, bu Nur Shaleha yang waktu itu mengingatkan aku untuk daftar. Aku pikir, aku mungkin perlu memberitahu beliau karena ini kabar gembira kan. Lagipula beliau yang memberikan informasi tentang program ini padaku dan beliau juga yang udah perhatian banget dengan sering menanyakan dan mengingatkan aku untuk daftar. Akhirnya, aku kirim whatsap ke beliau. Dan betapa terkejutnya aku ketika membaca balasan beliau. Waktu itu balasannya kurang lebih begini “Alhamdulillaah. Kamu gak usah memikirkan biayanya sudah disiapkan, nanti ibu antar kamu ke Sukabumi,”

Antara bingung dan terkejut ketika membaca balasan itu. Jujur seketika ada perasaan gak enak menjalari hatiku. Memang sih, sama seperti mahasiswa lain aku pun kadang dilanda masalah keuangan. Tapi selama ini aku gak pernah cerita atau minta kepada siapapun. Hasbunallaah wa ni’mal wakiil ni’mal mawlaa wa ni’man nashiir. Jujur aku merasa gak enak dan gak mau sampai merepotkan orang lain. saat itu aku utarakan isi hatiku kepada bu Nur dan bilang kalau sebenarnya beliau tidak perlu menanggung biayanya untukku, dan walaupun saat itu aku gak punya uang tapi aku sedang berikhtiar untuk mengusahakannya. Tapi bu Nur malah bilang kalau itu sudah rezekiku jadi aku tidak boleh menolak. Aku merasa sangat bersyukur kepada Allah, dan berterimakasih kepada teman-teman yang sudah membantuku. Walaupun aku tak pandai mengungkapkan perasaanku, tapi aku berdoa semoga Allah memberi balasan yang terbaik untuk bu Nur dan yang lainnya, serta melimpahi mereka dengan rahmat dan kasih sayang dari sisiNya. Aamiin.

Dan akhirnya, Alhamdulillaah dengan izin dan pertolongan Allah, aku tiba di Cisaat, Sukabumi pada tanggal 08 Juni 2015 pukul 23.00 dengan tetap mengantongi restu kedua orangtuaku yang awalnya gak setuju, dan tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun! Memang Allah Maha Pemurah, Maha Penyayang di antara para Penyayang. J

Khattamkan dalam 3 Hari!
Sampai disana handphone disita. Aku diasingkan! Gak boleh pegang hape dan gak boleh keluar dari pagar pondok kecuali untuk kepentingan tertentu. Tapi gak apa-apa juga sih. Jujur aja memang kalau pegang handphone pasti gak akan fokus menghafal. Sedikit sedikit bunyi. Sedikit sedikit buka sosmed. Baca whatsap. Atau stalking-stalking gak jelas di profil dan status orang. Jadi disita lebih baik.

Hal pertama yang harus aku lakukan disini adalah mengkhattamkan Al-Quran dalam waktu tiga hari. Tiga hari bro! itu artinya sehari aku harus membaca minimal 10 juz dan jujur aja selama ini aku belum pernah melakukannya. tapi mengkhattamkan Al Quran adalah syarat untuk bisa mulai menghafal. Semua santri, jika belum khattam belum boleh menghafal. Ditambah lagi, kedatanganku telat satu hari. Seharusnya tanggal 7 Juni, tapi karena masih ada ujian di kampus aku datang tanggal 8 Juni. Itu pun udah hampir tengah malam pas sampai. Itu artinya, jika ingin mulai menghafal bareng teman-teman yang lain aku harus khattamkan dalam waktu 2 hari. 2 hari!

Dan di sinilah awal perjuangan bersama Al Quran itu dimulai. Di sini juga aku melihat kegigihan yang begitu luar biasa dari teman-teman yang lain. Mereka membaca Al Quran sepanjang hari. Di mana saja (kecuali toilet ya), kapan saja. Dengan gaya apa saja. Sambil duduk di tangga, sambil nongkrong di samping empang, sambil jalan mondar mandir. Ketika di awal-awal program ini dimulai, jika kalian lewat di depan pondok kami, gak mungkin bila kalian gak terusik untuk menengok ke arahnya. 50 santriwati mendengungkan Al Quran sepanjang hari. Dari jauh kalian akan mendengar suara mereka seperti suara dengungan ratusan atau bahkan ribuan lebah. Orang-orang yang lewat di depan pondok seringkali menengok karena mendengar dengungan itu. dengungan yang menakjubkan, menggetarkan. Dengungan yang luar biasa. Itulah dengungan Al Quran

Seketika aku merasa sangat kerdil. Yaa Allah, ternyata selama ini begitu sedikit interaksiku dengan Al Quran. Begitu sempit waktu yang aku sediakan untuk Al Quran. Di sini aku melihat mereka yang sepanjang malam dan siang terus-terusan mendekati Al Quran. Terus-terusan membaca seolah tak kenal lelah, walau kadang bacanya juga sambil terantuk-antuk tapi tetap saja mereka lanjutkan. Di sini aku melihat orang-orang yang demi Al Quran, mereka rela untuk hanya tidur beberapa jam saja. Sementara aku selama ini, aku terlalu banyak istirahat. Gak tahan ngantuk, kadang baca sebentar langsung ketiduran. Astaghfirullaah. Betapa kerdilnya. Betapa malunya, berharap Surga dan tempat terdekat disisiNya dengan segenap kekerdilan-kekerdilan yang ada pada diriku.

Dan luar biasanya, banyak di antara teman-temanku kala itu yang mengkhattamkan Al Quran dalam waktu dua hari. Dua hari! Aku gak pernah melakukan itu. Dan itulah bukti semangat dan kegigihan mereka yang ingin lekas menghafal kalam-kalamNya. Jujur merasakan pengalaman harus mengkhattamkan Al Quran dalam 3 hari berasa ‘sesuatu’ buatku. Karena ternyata gak mudah. Waktu itu mata sampai berkunang-kunang dan suara agak serak. Tapi dari sini aku belajar untuk ‘sesekali’ berusaha ekstra keras untuk Al Quran. Dan kabar baiknya, pada saat selesai mengkhattamkan itu, justru pada saat itulah perjuangan yang sebenarnya baru akan dimulai :’) :’)

Sebenarnya masih banyaaak banget yang mau aku ceritakan… tapi bersambung aja....
Kalau kebanyakan pegel juga nulisnya he he.. n kasian juga yang baca…
Mudah2an ceritaku bisa memberikan manfaat sesuatu buat kalian yang baca J J J
Go go go semangaaaddd ^^/ ^^/ ^^/

Pondok Quran Camp At Tartil dari sisi depan

bagian samping

gerbang depan

foto bareng di hari terakhir hiks :,)

You Might Also Like

0 komentar

Search This Blog