Welcome Jagoan!

February 08, 2019

Alhamdulillahilladzii bi ni'matihii tatimmush shaalihaat setelah proses panjang nan melelahkan, akhirnya untuk pertama kalinya kami mendengar tangisan jagoan yang sudah sekian lama kami tunggu-tunggu itu pecah. Masih di ruang bersalin ketika aku melihat tubuh mungilnya diangkat oleh bidan. Sungguh campur aduk rasanya! tak sabar ingin cepat-cepat peluk belahan jiwa yang telah ku jaga dalam rahimku sekian lamanya.

3 days old
Berawal di tanggal 8 Januari 2019, sekitar pukul setengah dua pagi ketika pertama kali muncul tanda-tanda pertemuan itu akan segera tiba. Keluar darah dan lendir dari jalan lahirku. Waktu itu agak kaget karena ketika tidur tiba-tiba aku merasakan seperti ada air yang mengalir dari vagina. Di tengah sensasi basah aku merasa senang dan excited karena sebentar lagi aku akan beretemu sosok kecil yang sudah ku kandung selama 38 minggu lamanya.  

Pagi harinya rasa keram karena kontraksi semakin terasa tetapi belum terlalu parah. Saat itu aku perbanyak latihan jalan kaki di rumah sambil penasaran membayangkan bagaimana wajahnya, apakah mirip aku atau suami. Karena selama ini setiap usg di dokter wajahnya tidak pernah terlihat jelas.Jadi kami belum pernah benar-benar melihat gambaran wajah jagoan kami secara utuh. Hanya alat kelaminnya saja yang setiap kali USG selalu nampak jelas wkwk.

Tapi Sepertinya, walau begitu excited dan didera penasaran aku harus bersabar lebih panjang untuk bertemu si jagoan. Karena ternyata aku harus menjalani waktu selama kurang lebih 36 jam merasakan sakitnya kontraksi yang semakin lama semakin luarbiasa nikmatnya. Di awal prosesnya pembukaanku hanya maju setengah setiap 6 jam. hingga sekitar pukul 7 pagi di tanggal 9 Januari-nya (setelah hampir 30 jam merasakan kontraksi), pembukaanku baru di angka pembukaan 2 menuju 3. Aku bahkan hampir tidak tidur malam harinya karena menahan sakit (yang kemudian ternyata berpengaruh besar terhadap kekuatanku ketika sudah harus mengejan). Tapi Alhamdulillah, puji syukur atas segala kemudahan, kekuatan, dan pertolongan dari Allah swt ketika pukul 12.00 bidan kembali cek dalam ternyata sudah pembukaan 8. Saat itu juga aku langsung dibawa ke ruang bersalin.

Sekitar 2 jam aku diruang bersalin didampingi suami. Suami tak henti-hentinya mengingatkan aku untuk terus melafadzkan dzikir. Di sini terasa banget betapa seorang istri sangat butuh support dari suaminya untuk melewati momen-momen krusial semacam ini. Saat itu segenap tenaga yang tersisa sudah ku kerahkan semua namun si jagoan tak kunjung keluar. Akhirnya bidan meminta izin kepadaku untuk melakukan tindakan episiotomi. Di sayat dua kali daan.... Alhamdulillah, akhirnya tangisan mungil itu pecah.

Sungguh betapa terasa luarbiasanya perjuangan seorang ibu untuk mengantarkan seorang manusia ke dunia. Langsung terbayang bagaimana sakit yang dirasakan Ibu dan Mama ketika melahirkan kami dulu. Yaa Rabb sebegitu luarbiasanya sampai sulit mau menceritakannya juga. Semoga jadi pelajaran untuk bisa lebih berbakti kepada orangtua khususnya ibu yang sudah banyak berkorban untuk kami.


Khalid Yusuf Abdurrahman

Ketika si jagoan lahir, jujur kami (aku dan suami) belum mempersiapkan nama. Walau aku pribadi sebenarnya sudah punya rencana mau dinamakan apa si jagoan nanti, tapi kami belum benar-benar sepakat. Aa suami seperinya benar-benar belum punya pilihan sementara di pikiranku tersimpan dua nama tokoh yang selama ini begitu aku kagumi. Seorang panglima perang terbaik dan seorang Amirul Mukminin. Dua dari beberapa tokoh yang bahkan dari sebelum menikah, aku sudah berkhayal menamakan anak-anakku dengan nama mereka. Dua itu adalah Khalid ibn Walid Saifullah Al Maslul dan Amirul Mukminin Umar ibn Khaththab Al Farouq.

Ketika aku tau bahwa aku mengandung anak laki-laki sering aku berkata dalam hati "nak, apakah kamu Khalid ataukah kamu Umar?"

Tapi ketika aku sebut nama Umar ibn Khaththab Aa suami bilang sudah terlalu banyak yang pakai nama itu wkwk. Jadilah, setiap suami bertanya "siapa nama anak kita?" aku selalu jawab "Khalid". Akhirnya setelah melihat panjangnya kesakitan dan kepayahanku saat proses melahirkan ini, Aa bilang "Oke deh. Nama anak kita Khalid ya,".

Dan begitulah di hari-hari pertama si jagoan kami panggil dengan Khalid. kepanjangannya? jangan dulu ditanya. Kami perlu waktu seminggu diskusi untuk memutuskan apa nama kepanjangannya. Walau udah banyak yang nanya "Khalid apa kepanjangannya?" waktu itu cuma ku jawab "belum ada judul," wkwk

Setelah mempertimbangkan berbagai nama yang sulit kalau dibariskan di sini, akhirnya dipilihlah nama Yusuf dan Abdurrahman di belakang nama Khalid. Tepat seminggu setelah kelahirannya, di tangal 16 Januari 2019 akhirnya lengkaplah nama yang kami sematkan padanya. Nama yang mengandung berbagai doa dan pengharapan akan sosok pribadinya kelak di masa depan.

Khalid Yusuf Abdurrahman
9 Januari 2019M, 2 Jumadil Uulaa 1440H

Khalid (ibn Walid) ra adalah salah satu panglima terbaik sepanjang sejarah. Tak sekalipun ia kalah. Seorang pemimpin yang cerdas, kokoh, tangguh, pemberani, ahli strategi dan berbagai kombinasi luarbiasa lain dalam dirinya yang membentuk kekuatan karakter seorang ksatria. Sang pedang Allah yang dihunuskanNya.

Yusuf as seorang nabi yang dengan keutamaannya Allah abadikan kisahnya dalam Al-Quran. Bahkan kisat tsb Allah sebut dengan "Ahsan ul-Qashash" sebaik-baik kisah yang memberikan banyak pelajaran berharga bagi manusia. Utuh, dalam satu surat yang dinamai dengan namanya. Satu surat yang juga berusaha dihafalkan Aba ketika mengandung Khalid Yusuf. Maka kami namai juga ia dengan namanya.

Abdurrahman adalah jati dirimu. Nak, kamu hanyalah seorang hamba dari Tuhan Yang Maha Pengasih.. maka berjalanlah kamu, hiduplah kamu seperti sebagaimana para 'Ibaadurrahman berjalan dan hidup di atas dunia.

Khalid Yusuf Abdurrahman, sungguh di dalam namamu ada doa-doa terbaik yang kami panjatkan 

You Might Also Like

0 komentar

Search This Blog