Momen Khitan Bayi Khalid di Usia 6 Bulan

July 25, 2019


Khitan bayi memang sesuatu yang belum lazim di masyarakat kita. Pun ketika kami ingin mengkhitan Khalid yang saat ini berusia 6 bulan, ada saja yang mempertanyakan atau berkomentar semacam "masih kecil banget kok mau disunat?" "kasian kalau disunat,". Termasuk kakek khalid sendiri. Ama - sebutan Khalid untuk kakek- bahkan sampai bertekad gak mau masuk ke ruang tindakan saking gak tega dan kasihan hihi. Kami maklum sih, karena yaaa itu. Belum memasyarakat. Tapi sesuatu yang beda dengan tradisi kita gak selalu berarti sesuatu yang buruk kan. Bisa jadi kita yang belum tahu ilmunya.

Kami bismillah. Awalnya dulu ketika kuliah, aku melihat salah seorang ustadzah kami mengkhitan anaknya di usia 40 hari. Itulah pertama kali aku tahu ada bayi laki-laki yang disunat sekecil itu. Responku dulu sama "kok sekecil itu sudah disunat" tapi akhirnya aku mendapat penjelasan bahwa memang hal yang baik anak laki-laki disunat sedini mungkin. Keyakinanku juga bertambah ketika membaca buku Pendidikan Anak dalam Islam karangan Abdullah Nashih Ulwan. Disana dijelaskan bahwa lebih dianjurkan anak laki-laki disunat sedini mungkin di masa-masa awal kehidupannya karena kelak sang anak gak akan ingat sakitnya 'dipotong'. Selain itu, aku juga membaca postingan dari dokter anak yang terkenal se-IG raya - dokter Apin yang menjelaskan bahwa masa optimal untuk melakukan sunat atau khitan memang ketika bayi masih baru lahir (neonatus) dari usia 1 sampai 28 hari, lalu setelahnya dibawah 1 tahun. Berbekal hal-hal tadi, jadi makin bertambah keinginan dan tekad kami untuk mengkhitan Khalid sejak bayi.

Oiya sekedar info, memang banyak manfaat sunat bayi dari sisi medis dan kedokteran. Tapi aku gak akan jelaskan panjang di sini karena memang bukan bidangnya hehe. Tapi salah satu diantaranya adalah untuk meminimalisir trauma. Karena yaa namanya laki-laki muslim mau masih kecil atau sudah agak besar sudah pasti harus merasakan sunat. Nah, kalau disunat ketika bayi, anak kita akan segera lupa dengan sakitnya dan kelak gak perlu lagi merasakan sakitnya disunat ketika sudah besar. Ditambah kalau menurut pengamatanku sunat bayi ini lebih sedikit sakitnya dan lebih cepat penyembuhannya karena bagian yang 'dipotong' kan masih kecil wkwk. Tapi itu opini aku aja sih, kalau teman-teman mau tahu lebih pasti soal manfaat sunat bayi bisa langsung cari referensi sendiri ya. Di sini, InsyaaAllah aku mau berbagi pengalaman aja hehe.

Aku makin kuatkan tekad. Walau respon dari Ama dan pertanyaan orang kadang bikin hati ada galaunya.  Ditambah Khalid akan dikhitan di kampung halamanku, Bojonggede. Terpisah dengan Aba-nya ribuan kilo nan jauh nyebrang pulau dari tempat aku dan Khalid. Biasalah ya, kalau gak ada suami kadang suka oleng. Kalau suami dekat kan beliau yang bisa mengingatkan dan menguatkan huhu *curcol.

Langkah pertama sudah pasti cari provider sunatnya. Aku cari sekitaran Bojonggede, dan Alhamdulillah ada klinik khitan di dekat stasiun. Oiya, kenapa kami memilih sunat di Bojonggede? Itu karena kalau di Bojong pasukannya banyak. Ada Mimih, Ama dan Om Ian yang bisa diminta bantuan buat gantian momong khalid pas rewel.

Jadi dulu memang aku gak berani banget sunat Khalid di Duri karena takut gak kuat handle berdua aja sama suami. Ditambah dulu proses lahiranku dan sisa lukanya lumayan luarrbiasa ya, dan setelahnya aku harus adaptasi dengan peran baru sebagai Ibu. Mengurus bayi berdua aja dengan suami sejak bayi usia 1 bulan. Jadi masih banyak drama ibu barunya wkwk. Entar nangis-nangis, entar ketawa, baby blues dll-lah. Maka diputuskan untuk sunat Khalid ketika mudik lebaran walau gak didampingi Aba Khalid dan sudah lewat masa optimalnya.

Lanjut ke soal 'potong memotong'. Waktu itu karena sunat bayi ini belum begitu memasyarakat, aku cari tahu dulu apakah providernya bisa atau mau sunat bayi atau nggak. Waktu itu minta tolong Ama-nya khalid untuk tanya dan Alhamdulillah dokternya bisa walau pake ditanya-tanya "kenapa terburu-buru?" "Kenapa sekecil itu?" Dan kenapa kenapa yang lain bikin Ama khalid pulang dengan keadaan makin galau, gak tega, gak yakin, kasihan, dan kawan-kawannya. Dan itu ujung-ujungnya pengaruh juga ke psikologis aku (catatan pertama nih).

Kami tetapkan waktu khitan Khalid 2 hari setelah Ama Khalid konsul dulu untuk tanya-tanya. Awalnya kami buat janji dulu via whatsapp dengan dokternya. Kami - Aku, Mimih, Ama, Khalid-  tiba di klinik bertiga sekitar pukul 10.30 tanggal 17 Juli 2019 dengan selamat walau pake drama telat-telat dan dikomplain dokternya wkwk. Akhirnya saat-saat menegangkan (ea lebay) itu akan tiba. Yaa ibu mana yang gak akan tegang, deg-degan, gugup, cemas lihat bayinya akan 'dipotong'. Tapi kita tetap harus bisa menguasai diri, dan yang paling penting jangan putus panjatkan doa.

Sampai di ruang tindakan. Dokter - yang memang awalnya tidak begitu dukung sunat Khalid- menjelaskan sedikit tentang prosedur sunat. Termasuk kemungkinan luka atau bengkak yang timbul. Gimana bentuk luka dan bengkaknya, dan kenapa bisa berbentuk begitu. Pak dokter juga menunjukan hasil sunat yang kelihatan horor. Yang kelihatan kayak 'terbelah' (gausah dibayangin deh) sampai yang benyek bernanah bikin aku makin paranoid. Katanya sih supaya kalau di kemudian hari ada 'sesuatu' yang gak beres kita gak boleh tuntut dia. Karena dia menjalankan pekerjaan sesuai prosedur dan hasil tindakan bisa berbeda untuk masing-masing orang. Makin berasa banget tegang gitu gak si hati umma 😢. Tapi bismillah, kencengin doa.

Akhirnya tindakan awal khalid disuntik bius lokal. Dua kali di penis dan testis. Pas proses ini mulai berasa sedih karena khalid nangis-nangis ketika disuntik. Walau ketika suntiknya selesai dia langsung diam, tapi setelah itu aku lihat bagian yang disuntiknya mengeluarkan darah. Sampai nempel ke jilbab bikin tambah sedih. Wajar si kan habis disuntik biasanya memang mengeluarkan sedikit darah.

Tapi itu sedihnya sama sekali gak seberapa. Sampai akhirnya setelah menunggu 10 menit untuk obat biusnya bereaksi, khitannya dimulai. Berasa broken heart hati Umma Khalid. Khalid yang di usia 6 bulan ini sudah aktif, kenal dengan orang sekitarnya, kenal dengan lingkungan, mulai menunjukan apa yang dia mau dan tidak mau nangis senangis-nangisnya sambil menatap mata ummanya. Duh yaa Allah, kayak dipotek-potek hati tuh rasanya karena dari tatapannya dia seolah bilang "umma tolooong,". Tapi  aku harus tegar ya, yakin ini demi kebaikan Khalid. Waktu itu proses khitan berasa kayak lamaaaaaa sekali. Karena saking pengennya cepat menyudahi tangisan Khalid dan tatapan minta tolongnya yang bikin broken heart itu.

Etapi yang mau berencana mengkhitan baby-nya jangan terprovokasi ya dengan bagian sedih ini. Bismillah aja bu. Tegar, InsyaaAllah baik untuk bayi. Kenapa? Karena berita baiknya sakitnya ternyata memang cuma sebentar. Setelah 15-20 menit proses sunat selesai dan kami pulang. Tentunya sambil bawa oleh-oleh bagian kulupnya khalid yang sudah dibuang yang sampai saat ini pun aku gak pernah dan gak mau lihat wkwk. Di rumah khalid nangis lagi senangis-nangisnya karena kemungkinan obat biusnya habis dan dia mulai merasakan luka bekas potongan. 30 menit tanpa jeda teriak seteriak-teriaknya, tapi setelah itu Khalid capek dan.... Tidur

Setelah bangun tidur... eng ing eng.... Udah gak nangis-nangis. Makan seperti biasa. Senyum seperti biasa walau gak pakai celana. Dan walau hari itu level keceriaannya berkurang, tapi masih bisa senyum dan ketawa. Sejak hari itu gak pernah lagi Khalid nangis karena luka sunatnya.

Besoknya, khalid udah berusaha berguling seperti biasa walau dia masih merasa ngeri sendiri. Beberapa kali dia menahan badannya sendiri ketika berguling. Besoknya lagi lebih ekstrim, udah guling-gulingan. Gak sampai 3 hari Khalid sudah seperti gak merasakan sakit. Dan di hari ke 4 kami lihat lukanya sudah kering Alhamdulillah.

Kebayang kan betapa sebentar sakitnya. Bahkan sore setelah dikhitan, khalid sudah bisa ketawa bikin kami semua lupa tadi siang abis sedih-sedih broken heart sampai gemeteran. Dan setelah itu, komentar yang kami dengar dari orang jadi berbeda. Jadi banyak yang bilang "iya bagus ya disunat usia segini" hihi. Alhamdulillah wa laa haula wa laa quwwata illaa billah.

Sekian dan.. happy ending
Wkwk gitu doang ya.


Oiya terakhir catatan dan saran dari kami buat teman-teman yang juga mau mengkhitan bayi-nya. Berdasarkan pengalaman kami sebaiknya:
1. Cari provider yang memang mendukung sunat bayi dan satu frekuensi dengan kita. Karena ini akan ngaruh ke proses dan psikologis kita terutamanya.
2. Yakinkan dan samakan frekuensi juga dengan keluarga dekat (support system kita) supaya gak ada yang nanti malah membuat kita galau dan ragu.
3. Lebih kecil lebih baik. Bagi kami khalid sudah terlalu besar kemarin.


Kalau ada yang nanya gimana perawatan lukanya Khalid?
Khalid lukanya dibiarkan sembuh sendiri. Dari klinik tidak ditutup perban, gak dikasih salep (sebenernya kalau ada salep lebih baik tapi gak dikasih dokter dan gak berani juga sembarangan beli wkwk) dan dibersihkan aja.


Gimana pakai popoknya?
Khalid semalaman setelah disunat gak pakai apa apa alias ditelanjangin bagian bawahnya. Kasur kami alasi perlak dan bahan yg nyerap air buat nampung pipis. Jadi malam itu ku tidur sambil dikencingi bayi. Besoknya kami pakaikan clodi longgar aja. Besoknya lagi udah bisa dipakaikan pospak seperti biasa.


Udah gitu aja sharingnya wkwk. Yang benar datangnya dari Allah, yang salah dari kebodohan kami sendiri. Maaf ya kalau endingnya nanggung. Maklum lah yaa nulisnya sambil nyuri-nyuri waktu pas bayi tidur wakaka. Semoga bermanfaat untuk teman teman :)

You Might Also Like

0 komentar

Search This Blog